Senin, 11 Juni 2012

Menyeimbangkan Akal dan Hati

Dalam Manaqibnya diceritakan  saat  al-Syeik ‘Abd al-Qadir al-Jailani tenggelam dalam mujahadahnya kepada Tuhan, tiba-tiba muncul sinar cemerlang yang memenuhi cakrawala penglihatan. Sinar tersebut berkata: “Wahai Abd al-Qadir, Aku adalah Tuhanmu, setelah beribadah selama puluhan tahun, maka amalmu sangat banyak sehingga memehuni antara Timur dan Barat, menyesakan antara bumi dan langit,  dan memberatkan timbangan mizan di akhirat. Oleh karenanya, mulai sekarang ini, Aku cukupkan ibadah kepadamu. Kamu tidak perlu beribadah lagi kepadaku, karena telah cukup amalmu”. Mendengar perintah sinar yang mengaku Tuhan seperti itu, Abd al-Qadir berfikir sejenak, benarkah ini wahyu Tuhan khusus kepadaku, benarkah Tuhan memberiku keistimewaan untuk tidak menjalankan perintahNya? Abd al-Qadir sempat ragu, antara meyakini suara Agung nan cemerlang tersebut atau menolaknya. Hatinya yang sedang dilingkupi keterharuan, kegembiraan karena “bertemu” Tuhan merasa menerima suara tersebut. Akan tetapi akal rasionya tidak menerimanya, mana mungkin Tuhan mencabut perintahNya untuk beribadah, mana mungkin ia mendapatkan keistimewaan sudah cukup dalam beribadah, sementara Muhammad Sang Nabi sendiri masih tetap diperintahkan beribadah hingga akhir hayat?  Dalam kebimbangan tersebut, Abd al-Qadir memutuskan untuk memilih akalnya, ia segera ambil terompahnya dan dilemparkan pada sinar agung yang bergulung tersebut; “Pergi, engkau adalah syetan bukan Tuhan, Tuhan tidak mungkin membatalkan firmannya”. Seketika itu juga, sinar putih keperakan tersebut hilang, diiringi dengan suara yang menggema; “ Wahai Abd al-Qadir, engkau selamat dari godaannku, ketauhilah, sudah ribuan salik yang berhasil aku sesatkan dengan cara seperti ini. Engkau selamat karena menggunakan akalmu, sedangkan para salik yang geblinger tersebut karena mereka mengabaikan akalnya”.
Cerita tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa akal memainkan peran yang sangat signifikan dalam memutuskan sesuatu. Akal mampu menunjukan kebenaran, dan mencerahkan hati di saat hati diliputi oleh kebimbangan dan keraguan. Bukankah dalam teologi  Mu’tazilah tentang konsep tahsin dan taqbih  akal memiliki kemampuan dasyat sehingga dapat menentukan baik dan buruknya sesuatu? Dalam cerita Abdul Qadir tersebut, akal berfungsi sebagai hidayah Tuhan yang menyelamatkan Abdul Qadir dari tipu daya syetan. Sedemikian pentingnya fungsi akal dalam beragama, sampai Nabi pernah mengatakan dalam sabdanya; al-din aql, la dina liman la aqla lah  (Agama adalah manifestasi akal, maka tidak dianggap beragama bagi orang yang tidak berakal).  
Namun demikian, meskipun akal mampu menyelamatkan manusia dari kejahatan syetan, mampu “mewakili” Tuhan sebagai petunjuk bagi manusia dalam memilah antara kebaikan dan keburukan, ia tidak lantas sempurna tanpa kekurangan, sebab jika sempurna tanpa cacat, maka cukuplah Tuhan menurunkan akal sebagai pengganti Nabi dan syariat, sehingga yang ada adalah “agama aqliyyah” dan “Nabi Aqil”.  Ada sesuatu yang meta-rasional yang terkadang akal tidak mampu menjangkaunya. Terlebih dari itu, seseorang yang berfikir rasionalis murni terkadang terjebak dengan subyektivisme dan apriori. Dalam kontek inilah, maka menjadi benar kritik Imanuel Kant terhadap otentisitas akal murni (pure reason) dalam kemampuannya menentukan suatu etika (baik dan buruk). Menurut Kant, akal murni (pure reason) terlalu subyektif untuk menentukan baik buruk suatu perbuatan (etika), sehingga kepentingan menjadi ikut tercampur di sana. Terlebih lagi, ada suatu hokum dunia “Noumenal” yang tidak mampu ditembus oleh akal murni. Selanjutnya Kant mengusulkan bukan menggunakan akal murni (pure reasion) tetapi menggunakan akal transcendental, yang dalam bahasa santrinya adalah “akal ilahiyah” atau “rasio ladunni” atau “burhani-irfani”.
Berkaitan dengan hidayah Tuhan dalam memilih dan memilah putusan, maka Ibn Katrir membagi hidayah menjadi lima, yaitu pertama, hidayah naluri, yaitu petunjuka tuhan yang diberikan pada manusia dan binatang, seperti rasa lapar, sakit kalo dipukul, haus dan sebagainya. Hidayah ini menempati hidayah paling bawah. Kedua, hidayah hawassi, yaitu petunjuka Tuhan melalui pancaindera, seperti kemampuan melihat, mendengar, membau, dan mengecap. Indera ini diberikan kepada hewan dan manusia. Dengan hidayah hawassi ini manusia mampu melahirkan ilmu-ilmu empirik. Ketiga, hidayah akal, yaitu petunjuk tuhan yang diberikan kepada manusia melalui perantara akal. Akal hanya dberikan kepada manusia, tidak kepada hewan. Dalam istilah filsafat, maka ilmu-ilmu yang dilahirkan adalah bersifat rasional dan dalam istilah epetimologi Islam disebut dengan burhani. Keempat, hidayah ilham, yaitu petunjuka Tuhan yang diberikan kepada manusia dengan melalui perantara ilham atau kebeningan hati, yang dalam istilah epistemology filsafat Islam dengan irfani. Kelima, hidayah taufiq, yaitu petunjuka Tuhan paling besar untuk menggerakan hati hambaNya untuk memeluk Islam. Hidayah yang kelima ini merupakan petunjuk Tuhan  terbesar, yang langsung masuk dalam relung hati seseorang guna mengucapkan kalimah syahadah.
Berdasarkan beberapa macam petunjuk Tuhan tersebut, maka disamping pentingnya akal dalam menemukan suatu kebenaran, juga diperlukan ilham yang didapatkan melalui kebeningan hati. Artinya, ketajaman akal harus diimbangi dengan kecerdasan hati dalam menentukan sesuatu. Keduanya harus terus berdialog, tanpa putus, dan selalu dalam hidup ini. Hal ini karena jika salah satunya berhenti berdialog atau tidak berfungsi, maka yang terjadi adalah ketersesatan hati, dan keblingeran akal. Dalam epistemology Islam yang digagas oleh al-Jabiri, maka semangat burhani yang rasional harus dikawinkan dengan semangat irfani yang suci. Jika keduanya, yaitu akal dan hati dapat digabungkan, maka akan lahirlah Sang Syuhrawardi dan Ibn Arabi kontemporer dalam dunia ini, yaitu seseorang yang berfikir rasional, menjadi filosof, namun juga seorang sufi, yang menciptakan kebeningan hati, seseorang yang pikirannya seluas cakrawala, dan hatinya sejembar samudra, fikirannya mampu mengembara sampai bintang tsurayya, dan hatinya tertancap di bumi menggenggam mutiara.  

 Wallahu a’lam bisshawab
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yang belum punya ID gunakan " Anonymous " untuk memberi komentar.

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda